
Langsa, 4 Agustus 2026 – Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling Universitas Samudra menyelenggarakan pelatihan dasar konseling pembimbing akademik kepada 100 orang dosen di lingkungan Universitas Samudra. Kegiatan pelatihan dasar ini diisi oleh dua pemateri dosen Bimbingan Konseling dan Pendidikan Inklusi Disabilitas dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Samudra, Dr. Helmi Ghoffar, M.Pd., dan Alda Zahara Islamyati, M.Pd.

Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Humas, Dr. Nasruddin, S.T., M.T. Dalam kata sambutannya beliau menyampaikan bahwa ada tantangan besar para dosen dalam melaksanakan bimbingan akademik. Perbedaan generasi yang cukup jauh antara dosen dan mahasiswa, perkembangan teknologi dan informasi digital, serta kegiatan di luar kampus, menjadikan karakteristik mahasiwa lebih dinamis. Hal ini menuntut dosen agar mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Di masa depan Dosen diharapkan memiliki kompetensi tambahan terutama dalam bimbingan akademik dalam menjawab perubahan zaman tersebut.

Dalam upaya memenuhi tuntutan penambahan kompetensi dosen tersebut Alda Zahara Islamyati, M.Pd., sebagai narasumber pertama pelatihan ini membuka wawasan para dosen bahwasannya kondisi well-being menjadi dasar utama manusia dalam berkembang secara optimal. Well-being adalah kondisi ketika seseorang mampu menjalani kehidupannya secara optimal; sehat, bahagia, memiliki hubungan sosial yang sehat dan memiliki emosi positif, serta memiliki kemampuan menghadapi tantangan hidup.
Konsep well-being itu sendiri menurut model PERMA terdiri atas lima komponen utama, yaitu Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment. Hal ini meliputi emosi positif, keterlibatan, hubungan, makna hidup, dan pencapaian prestasi, antara pembimbing akademik dan mahasiswa.

Sejalan dengan konsep well-being ini, Dr. Helmi Ghoffar, M.Pd., sebagai narasumber kedua menyampaikan bahwa pembimbing akademik merupakan pendengar pertama serta fasilitator bagi mahasiswa dalam menghadapi masalah akademik maupun non-akademik. Oleh karena itu dibutuhkan keterampilan khusus dalam menghadapai mahasiswa pada proses bimbingan akademik.
Empati menjadi dasar penting dalam proses bimbingan akademik. Lalu dilanjutkan dengan keterampilan mendengar aktif dalam perhatian penuh (attending), memancing pertanyaan terbuka (Open-Ended Questions), serta merangkum percakapan (Summarizing), menjadikan proses bimbingan akademik dengan mahasiswa lebih dinamis.